MANAJEMEN RISIKO
A.
Definisi
Risiko dapat didefinisikan
sebagai volatilitas outcome yang
umumnya berupa nilai dari suatu aktiva atau hutang (Ghozali, 2007).
B.
Klasifikasi
Perusahaan dalam aktivitasnya
menghadapi dua jenis risiko yaitu risiko usaha dan risiko non usaha:
1) Risiko Usaha/Risiko Nonsistemik
Risiko usaha adalah semua
risiko yang berkaitan dengan usaha perusahaan untuk menciptakan keunggulan
bersaing dan memberikan nilai bagi pemegang saham. Risiko usaha berhubungan
dengan produk seperti inovasi teknologi, desain produk, dan pemasaran produk.
Leverage operasi yang berhubungan dengan besarnya tingkat biaya tetap dan biaya
variabel juga merupakan bagian dari risiko usaha. Risiko usaha ini bagi
perusahaan merupakan risiko yang dapat dikendalikan. Dapat dihilangkan dengan
melakukan diversifikasi.
2) Risiko Nonusaha/Risiko Sistemik/Risiko
Pasar
Risiko lainnya yang tidak
dapat dikendalikan oleh perusahaan dikategorikan sebagai risiko non-usaha dan
salah satunya adalah risiko strategik sebagai akibat dari perubahan mendasar
lingkungan ekonomi dan politik. Dari manakah risiko itu berasal? Risiko dapat
timbul dari berbagai sumber. Risiko yang diciptakan oleh manusia seperti siklus
usaha, inflasi, perubahan kebijakan pemerintah dan perang. Risiko dapat juga
timbul dari fenomena alam yang tidak terlihat seperti cuaca dan gempa bumi.
Risiko dapat pula timbul dari pertumbuhan ekonomi jangka panjang, inovasi
teknologi yang dapat mengakibatkan teknologi yang ada saat ini menjadi usang
dan menciptakan pengangguran.
Kegagalan mengelola risiko operasional akan
berdampak pada risiko sistemik.
Total Risiko/Volatilitas (Standar Deviasi)=
Sistemik+Nonsistemik
Total risiko bila dikondisikan pada waktu tertentu
disebut conditional volatility.
Peraturan Bank Indonesia No 5/8 Tahun 2003 mengidentifikasi ada 8 jenis
risiko yang secara inherent melekat pada industri perbankan yaitu risiko
kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum (legal), risiko reputasi, risiko
strategik, dan risiko kepatuhan (compliance).
1. Risiko Kredit
Risiko kredit didefinisikan sebagai risiko kerugian yang dikaitkan dengan
kemungkinan kegagalan klien membayar kewajibannya atau risiko dimana debitur
tidak dapat melunasi hutangnya. Sebagai misal Bank A memberikan pinjaman
berbunga kepada nasabah perorangan. Dengan melakukan hal ini bank menghadapi
risiko nasabah tidak dapat membayar bunga atau membayar pokok dan bunga
pinjaman.
2. Risiko Pasar
Risiko pasar adalah risiko kerugian pada naik-turunnya posisi Neraca yang
muncul akibat pergerakan di pasar modal. Risiko ini merupakan risiko gabungan
yang terbentuk akibat perubahan suku bunga, perubahan nilai tukar serta hal-hal
lain yang menentukan harga pasar saham, maupun ekuitas dan komitas.
3. Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas dapat dibedakan menjadi dua yaitu risiko likuiditas asset
(asset liquidity risk) dan risiko
likuiditas pendanaan (funding liquidity
risk). Risiko likuiditas asset sering disebut juga dengan market/product
liquidity risk yang timbul ketika suatu transaksi tidak dapat dilaksanakan pada
harga pasar yang terjadi oleh karena besarnya nilai transaksi relatif terhadap
besarnya pasar. Sedangkan risiko likuiditas pendanaan yang sering juga disebut cash-flow risk yaitu ketidakmampuan
memenuhi kewajiban yang sudah jatuh tempo yang pada gilirannya akan
mengakibatkan likuidasi.
4. Risiko Operasional
Risiko operasional adalah risiko kerugian sebagai akibat dari tindakan
manusia, proses, infrastruktur atau teknologi yang mempunyai dampak operasional
bank. Termasuk dalam risiko ini adalah kegiatan yang menjurus terjadinya
kecurangan (fraudulent), kegagalan
manajemen, tidak memadainya sistem pengendalian dan prosedur operasional.
Kesalahan teknis dapat menyebabkan kerusakan sistem informasi, kerusakan proses
transaksi, tidak berfungsinya sistem settlement atau tidak berjalannya back-office operation.
5. Risiko Operasional
Risiko hukum adalah risiko yang timbul dari potensi terjadinya pelanggaran
kontrak, kasus pengadilan atau kebijakan yang salah yang dapat menyebabkan
pengaruh negatif terhadap kondisi keuangan maupun operasional bank. Risiko
hukum umumnya berkaitan dengan risiko kredit oleh karena kerugian counterparty karena transaksi dengan
bank mencari penyelesaian lewat pengadilan. Bentuk lain adalah gugatan
pengadilan terhadap perusahaan yang dilakukan oleh para pemegang saham karena
menderita kerugian yang besar.
6. Risiko Operasional
Risiko reputasi adalah risiko kerusakan potensial sebagai akibat opini
negatif publik terhadap kegiatan bank sehingga bank mengalami penurunan jumlah
nasabah atau menimbulkan biaya besar karena gugatan pengadilan atau penurunan
pendapatan bank. Rumor di pasar atau persepsi publik merupakan penyebab
signifikan didalam menentukan tingkat risiko reputasi.
7. Risiko Strategik
Risiko strategik adalah risiko yang disebabkan adanya penetapan dan
pelaksanaan strategi Bank yang tidak tepat, pengambilan keputusan bisnis yang
tidak tepat atau kurang responsifnya Bank terhadap perubahan eksternal. Akibat
dari keputusan yang tidak tepat ini Bank harus mengeluarkan biaya yang besar
dan gagal mencapai target bisnisnya.
8. Risiko Kepatuhan
Risiko kepatuhan merupakan risiko yang disebabkan Bank tidak mematuhi atau
melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan lain yang berlaku.
C.
Alat Analisis Manajemen Risiko
Tahun 1938: Bond Duration
Tahun 1952: Markowitz Mean-Variance Framework
Tahun 1963: Sharpe’s Capital Asset Pricing Model (CAPM)
Tahun 1966: Multiple Factor Models
Tahun 1973: Black-Scholes Option Pricing Model
Tahun 1979: Binomial Option Model
Tahun 1983: RAROC, Risk-Adjusted Return
Tahun 1986: Limits on Exposures by Duration Bucket
Tahun 1988: Risk-Weighted Assets for Banks
Tahun 1992: Stress Testing
Tahun 1993: Value at Risk (VaR)
Tahun 1994: RiskMetrics
Tahun 1997: CreditMetrics, Credit Risk+
Tahun 1998: Integration of Credit and Market Risk
Tahun 2000: Enterprisewide Risk Management
D.
Analisis VaR
Manajemen risiko beberapa tahun terakhir ini telah mengalami revolusi yang
dimulai dengan munculnya alat analisis Value
at Risk (VaR) sebagai metode baru untuk mengukur risiko pasar uang yang
dikembangkan untuk menjawab maraknya skandal keuangan pada awal tahun 1990an.
Sebenarnya metodologi di belakang VaR tidaklah baru dan dapat ditelusur kembali
pada kerangka Mean Variance yang
dikembangkan oleh Markowitz pada tahun 1952. Apa yang baru dari VaR adalah
integrasi dari semua risiko menjadi ukuran central
common metric. Sekarang metode VaR telah menyebar jauh aplikasinya sampai
pada transaksi derivative dan dengan
demikian telah merubah cara suatu perusahaan menangani risiko keuangan.
VaR dapat ditelusur kembali akarnya pada saat terjadinya banyak skandal
keuangan pada awal tahun 1990an yang menimpa Orange County, Baring, Daiwa dan banyak perusahaan lainnya. Apa
yang terjadi pada perusahaan di atas adalah hilangnya jutaan dolar sebagai
kerugian karena lemahnya pengawasan dan manajemen risiko. Sebagai akibat dari
kerugian ini banyak institusi keuangan dan regulator melirik VaR sebagai metode
yang mudah untuk memahami dan mengkuantifikasikan risiko pasar.
VaR adalah metode untuk menilai risiko yang menggunakan teknik statistik
standar. VaR dapat didefinisikan: VaR
measures the worst expected loss over a given horizon under normal market
conditions at a given confidence level. Jadi VaR dapat diartikan ukuran
kerugian terburuk yang diharapkan akan terjadi pada horison waktu tertentu pada
kondisi pasar yang normal dengan tingkat kepercayaan tertentu. VaR memberikan
ringkasan ukuran risiko pasar.
Sebagai misal sebuah bank dapat menyatakan bahwa VaR harian dari portofolio
asset yang diperdagangkan sebesar Rp 100 milyar dengan tingkat kepercayaan 99%.
Dengan kata lain hanya ada 1% kemungkinan (1 dari 100) pada kondisi pasar
normal, bank akan menderita kerugian diatas Rp 100 milyar.
Angka di atas menunjukkan besarnya bank exposure
terhadap risiko pasar dan juga probabilitas (kemungkinan) terjadinya pergerakan
yang tidak menguntungkan (adverse move). Dengan angka ini pemegang saham
dan manajer dapat memutuskan apakah mereka merasa nyaman atau tidak dengan
tingkat risiko tersebut. Jika jawabannya adalah tidak nyaman, maka proses
penghitungan VaR dapat digunakan untuk memutuskan pada bagian mana risiko ini
harus dikelola.
Dibandingkan dengan ukuran risiko tradisional, VaR memberikan nilai agregat
dari risiko portofolio yang meliputi leverage, korelasi dan posisi saat ini.
Jadi VaR lebih melihat ke depan (forward
looking) dan metodologi VaR dapat
dikembangkan juga untuk jenis risiko keuangan lainnya. VaR harus digunakan oleh
suatu lembaga atau institusi yang berhadapan dengan risiko keuangan dan ada
tiga jenis penerapan dari VaR yaitu: (1) pasif, untuk pelaporan informasi, (2)
defensif, untuk pengendalian risiko, dan (3) aktif, untuk mengelola risiko.
Secara statistik risiko merupakan volatilitas dari sesuatu dapat berupa
pendapatan, laba, biaya dan seabagainya. Volatilitas merupakan ukuran dispersi
(penyebaran) yang dalam statistik diukur dengan variance (s2) atau standar deviasi (s). Semakin besar nilai variance atau
standart deviasi, maka semakin besar risikonya. Berikut ini akan dibahas
beberapa konsep statistik yang akan digunakan untuk pembahasan pada bab-bab
berikutnya
Return adalah pendepatan yang akan diterima jika kita menginvestasikan uang
pada suatu aktiva finansial (saham, obligasi) atau aktiva riil (property,
tanah). Misalkan kita membeli saham telkom dan memegangnya selama satu tahun.
Return yang akan kita terima yaitu dividen dan capital gain (selisih harga jual
saham dengan harga beli saham Telkom) atau secara matematis dapat ditulis
sebagai berikut:
rtelkom =
= %
Jika kita
memegang saham Telkom hanya sehari atau mingguan, maka tidak ada dividen yang
diterima sehingga return hanyalah selisih antara harga jual dengan harga beli
saham, secara matematis ditulis:
rtelkom =
= %
Ket:
D = dividen
yang diterima
Ht = Harga
saham pada periode t
Ht-1 = Harga
saham pada periode t-1
Return saham
dapat dihitung harian, mingguan, bulanan dan tahunan. Semakin pendek periodenya
misalkan harian maka sebaiknya perhitungan return menggunakan model geometri
yang memberikan continuously compound
return dan dihitung seperti di bawah ini:
rtelkom =
= %
Ket:
Ln = Logaritma
Natural
Ht = Harga
saham pada periode t
Ht-1 = Harga
saham pada periode t-1
Berikut ini
diberikan contoh menghitung return harian saham telkom berdasarkan data harga
saham Telkom selama bulan dengan menggunakan program Excel.
Expected
return= mean dari return
Variasi besarnya return harian selama pengamatan sering disebut dengan
volatilitas. Volatilitas merupakan ukuran risiko, dengan demikian risiko
investasi pada saham Telkom tidak lain adalah volatilitas return saham Telkom.
Secara statistik volatilitas diukur dengan Variance (s2) atau Standar Deviasi (s).
Rumus perhitungan Variance (s2) atau Standar Deviasi (s) sebagai berikut:
Variance (s2) =
Standar
Deviasi (s) =
Ket:
ri = return
saham berdasarkan pengamatan sampel
Er = expected
return saham (nilai rata-rata return)
N = jumlah
observasi atau pengamatan
Pada
program Excel Variance dihitung dengan rumus = VAR (number 1, number 2, ....),
sedangkan Deviasi dihitung dengan rumus = STDEV (number 1, number 2, ....)
Expected Return, Variance dan
Standar Deviasi yang telah dibahas di atas hanya memberikan kepada kita
informasi sifat distribusi probabilitas yang berkaitan dengan satu jenis saham
atau investasi. Jika kita ingin mengetahui hubungan dua saham atau dua jenis
investasi, misalkan bagaimana hubungan antara return saham telkom dengan return
saham Gudang Garam? Apakah berhubungan positif yaitu jika return saham Telkom
naik, maka begitu juga return saham Gudang Garam naik. Ataukah berhubungan
negatif yaitu jika return saham Telkom naik, maka return saham Gudang Garam
turun.
Untuk melihat hubungan dua saham ada dua konsep statistik yang dapat
digunakan yaitu Covariance (Cov) dan Correlation (r). Secara matematis rumus kovarian dan
korelasi dapat ditulis sebagai berikut:
Kovarian
saham A dan saham B
Cov A,B =
Ket:
rAi = return
saham A berdasarkan pengamatan sampel
ErA = expected
return saham A (nilai rata-rata return saham A)
rBi = return
saham B berdasarkan pengamatan sampel
ErB = expected
return saham B (nilai rata-rata return saham B)
N = jumlah
observasi atau pengamatan
Sebagai ukuran angka kovarian tidak banyak menjelaskan tentang hubungan
return antara dua saham. Besarnya angka kovarian tidak menjelaskan eratnya
hubungan antar dua saham, tetapi kita lebih menitik beratkan apakah nilai
kovarian positif atau negatif. Angka kovarian positif menunjukkan jika return
saham A berada di atas return rata-ratanya, maka begitu juga return saham B
akan juga berada di atas rata-ratanya. Sebaliknya jika angka kovarian negatif
berarti jika return saham A vberada di atas return rata-ratanya, maka return
saham B berada di bawah return rata-ratanya. Besarnya nilai kovarian tidak
terbatas berkisar dari minus 1 sampai plus tak terhingga.
Rumus Excel menghitung Kovarian = COVAR (array1, array2)
Korelasi saham A dan saham B
rA,B =
Ket:
CovA,B = Covariance
antara saham A dan B
sA = Standar deviasi saham A
sB = Standar deviasi saham B
Angka korelasi dapat mengukur seberapa erat hubungan antara dua saham A dan
B. Semakin besar nilai korelasi maka semakin besar hubungan kedua saham
tersebut. Besarnya koefisien korelasi berkisar dari minus 1 sampai plus 1 atau
antara -1 dan +1. Nilai korelasi -1 berarti perfect
negative correlation (korelasi negatif sempurna) yang berarti kenaikan 1
unit saham A diikuti dengan penurunan 1 unit saham B. Sedangkan korelasi +1
berarti perfect positive correlation
(korelasi positif sempurna) yang berarti kenaikan 1 unit saham A diikuti dengan
kenaikan 1 unit saham B. Korelasi berkisar antara -1 dan +1 disebut imperfect negative atau positive correlation.
Rumus Excel menghitung korelasi = CORREL (array1, array2)
RETURN PORTOFOLIO DAN RISIKO
PORTOFOLIO
Apa yang sudah di bahas di atas adalah perhitungan return dan risiko untuk
satu saham. Dalam portofolio kita investasi pada lebih dari satu jenis saham
dengan nilai investasi yang berbeda, yang menjadi masalah sekarang adalah
berapa besarnya return portofolio dan risiko portofolionya. Untuk membahas hal
ini kita mulai saja dengan dua saham A dan B dengan informasi seperti di bawah
ini:
|
|
|
|
Portofolio
|
|
|
Saham A
|
Saham B
|
50% Saham A + 50% Saham B
|
|
Return (r)
|
10%
|
20%
|
?
|
|
Std Deviasi (s)
|
5%
|
8%
|
?
|
|
Cov (A,B) = 2%
|
|
|
|
Berdasarkan informasi ini dapat dikatakan bahwa jika kita hanya investasi
pada saham A saja, maka besarnya return yang diperoleh 10% dengan tingkat
risiko 5%. Sedangkan jika kita hanya investasikan pada saham B saja, maka
besarnya return yang diperoleh 20% dengan tingkar risiko 8%.
Sekarang kalau kita investasikan uang kita 50% pada saham A dan 50% saham
B, maka berapa besarnya return portofolio dan risiko portofolio. Pertanyaan
yang timbul apakah return portofolio sama dengan penjumlahan rata-rata dari
masing-masing return saham A dan B. Begitu juga apakah risiko portofolio sama
dengan penjumlahan rata-rata risiko saham A dan saham B? Return Portofolio (rp)
adalah penjumlahan rata-rata dari masing-masing return saham A dan B secara
matematis dapat dituliskan sebagai berikut:
Rp = (xa
x ra) + (xb x rb)
= (0,50
x 0,10) + (0,50 x 0,20) = 15%
Risiko portofolio (sp) ternyata bukanlah penjumlahan rata-rata
dari masing-masing risiko saham A dan B karena ada covariance antara A dan B.
Oleh karena itu kita harus mengetahui matrik kovarian dua saham A dan B seperti
di bawah ini:
|
|
Xa
|
Xb
|
|
|
A
|
B
|
|
xa A
|
s2A
|
CovB,A
|
|
xb B
|
CovA,B
|
s2B
|
Diagonal matrik adalah Variance A (s2A) dan Variance B (s2B), sedangkan di atas dan di bawah diagonal adalah
Covariance B,A (CovB,A) dan Covariance A,B (CovA,B). Berdasarkan matrik
kovarian ini dapat diperoleh besarnya risiko portofolio (sp) dengan rumus sebagai berikut:
Risiko
Portofolio (sp)
= 
= 
= 
= 
= 0,11056
= 11,06%
Jadi
besarnya risiko portofolio investasi 50% saham A dan 50% saham B adalah
11,06%.
Kasus
Portofolio 3 saham atau lebih
Untuk kasus portofolio 3 saham atau lebih dapat dibuat matrik kovarian dan
rumus perhitungan portofolio sebagai berikut:
|
|
Xa
|
Xb
|
Xc
|
|
|
A
|
B
|
C
|
|
xa A
|
s2A
|
|
|
|
xb B
|
CovA,B
|
s2B
|
|
|
xc C
|
CovA,C
|
CovB,C
|
s2C
|
Oleh
karena Covariance di atas dan di bawah diagonal sama, maka hanya cukup ditulis
yang dibawah diagonal saja, tetapi nanti kita hitung dua kali.
Rumus
Risiko Portofolio untuk 3 saham:

Jika
yang diketahui adalah korelasi (r), maka Covariance dapat kita ganti dengan
korelasi dengan rumus:
rA,B = 
Cov
A,B = rA,B sA sB

Berikut
ini diberikan contoh portofolio dua saham yaitu saham Telkom dan saham BCA.
Uang yang diinvestasikan sebesar Rp 100juta, yaitu Rp 80 juta dibelikan saham
Telkom dan Rp 20 juta dibelikan saham BCA. Berdasarkan pengamatan data return
kedua saham tersebut selama bulan Desember 2004. hitunglah besarnya return
portofolio (rp) dan risiko portofolio (sp).
Untuk
menjawab kita harus menentukan besarnya:
- Expected return saham dengan rumus = AVERAGE (number1, number 2....)
- Standar Deviasi return dengan rumus = STDEV (number1, nu,ber 2....)
- Covariance return kedua saham dengan rumus = COVAR (array1, array2....)
- Correlation return kedua saham dengan rumus = CORREL (array1, array2....)
Expected
return Telkom = AVERAGE (B2:B22)
Expected
return BCA = AVERAGE (C2:C22)
Variance
return Telkom = VAR (B2:B22)
Variance
return BCA = VAR (C2:C22)
Standar
Deviasi Telkom = STDEV (B2:B22)
Standar
Deviasi BCA = STDEV (C2:C22)
Covariance
(Telkom, BCA) = COVAR (B2:B22, C2:C22)
Correlation
(Telkom, BCA) = CORREL (B2:B22, C2:C22)
Return
Portofolio = ((80/100)*B24)+(20/100)*C24
Risiko
Portofolio = SQRT ((80/100)^2*$G$9+(20/
100) ^2*$H$11+2*(80/100)*(20/100)*$G$11
Berikut
ini diberikan contoh portofolio tiga saham yaitu saham Telkom, saham BCA dan
Gudang Garam. Uang yang diinvestasikan sebesar Rp 100 juta, yaitu Rp 50 juta
dibelikan saham Telkom, Rp 25 juta dibelikan saham BCA dan Rp 25 juta dibelikan
saham Gudang Garam. Berdasarkan pengamatan data return ketiga saham tersebut
selama bulan Desember 2004. Hitunglah besarnya return portofolio (rp) dan
risiko portofolio (sp).
Expected
return Telkom = AVERAGE (B2:B22)
Expected
return BCA = AVERAGE (C2:C22)
Variance
return Telkom = VAR (B2:B22)
Variance
return BCA = VAR (C2:C22)
Standar
Deviasi Telkom = STDEV (B2:B22)
Standar
Deviasi BCA = STDEV (C2:C22)
Covariance
(Telkom, BCA) = COVAR (B2:B22, C2:C22)
Correlation
(Telkom, BCA) = CORREL (B2:B22, C2:C22)
Return
Portofolio = ((80/100)*B24)+(20/100)*C24
Risiko
Portofolio = SQRT ((80/100)^2*$G$9+(20/
100) ^2*$H$11+2*(80/100)*(20/100)*$G$11
Return Portofolio (Rp) = ((50/100)*B24+(25/100)*C24+(25/100)*D24)=
0,000264
Risiko Portofolio (sp) = SQRT ((50/100)^2*$H$8+(25/100)^2*$I$10+(25/
100) ^2*$J$12
+
2*(50/100)*(25/100)*$H$10+2*(50/100)*(25/
100)*$H$12
+2*(25/100)*(25/100)*$J$12
= 0,01760
Tidak ada komentar:
Posting Komentar