Translate

Kamis, 24 April 2014

MANAJEMEN KEUANGAN


MANAJEMEN RISIKO


A.    Definisi
Risiko dapat didefinisikan sebagai volatilitas outcome yang umumnya berupa nilai dari suatu aktiva atau hutang (Ghozali, 2007).
B.     Klasifikasi
Perusahaan dalam aktivitasnya menghadapi dua jenis risiko yaitu risiko usaha dan risiko non usaha:
1)      Risiko Usaha/Risiko Nonsistemik
Risiko usaha adalah semua risiko yang berkaitan dengan usaha perusahaan untuk menciptakan keunggulan bersaing dan memberikan nilai bagi pemegang saham. Risiko usaha berhubungan dengan produk seperti inovasi teknologi, desain produk, dan pemasaran produk. Leverage operasi yang berhubungan dengan besarnya tingkat biaya tetap dan biaya variabel juga merupakan bagian dari risiko usaha. Risiko usaha ini bagi perusahaan merupakan risiko yang dapat dikendalikan. Dapat dihilangkan dengan melakukan diversifikasi.
2)      Risiko Nonusaha/Risiko Sistemik/Risiko Pasar
Risiko lainnya yang tidak dapat dikendalikan oleh perusahaan dikategorikan sebagai risiko non-usaha dan salah satunya adalah risiko strategik sebagai akibat dari perubahan mendasar lingkungan ekonomi dan politik. Dari manakah risiko itu berasal? Risiko dapat timbul dari berbagai sumber. Risiko yang diciptakan oleh manusia seperti siklus usaha, inflasi, perubahan kebijakan pemerintah dan perang. Risiko dapat juga timbul dari fenomena alam yang tidak terlihat seperti cuaca dan gempa bumi. Risiko dapat pula timbul dari pertumbuhan ekonomi jangka panjang, inovasi teknologi yang dapat mengakibatkan teknologi yang ada saat ini menjadi usang dan menciptakan pengangguran.
Kegagalan mengelola risiko operasional akan berdampak pada risiko sistemik.
Total Risiko/Volatilitas (Standar Deviasi)= Sistemik+Nonsistemik
Total risiko bila dikondisikan pada waktu tertentu disebut conditional volatility.
Peraturan Bank Indonesia No 5/8 Tahun 2003 mengidentifikasi ada 8 jenis risiko yang secara inherent melekat pada industri perbankan yaitu risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum (legal), risiko reputasi, risiko strategik, dan risiko kepatuhan (compliance).
1.   Risiko Kredit
Risiko kredit didefinisikan sebagai risiko kerugian yang dikaitkan dengan kemungkinan kegagalan klien membayar kewajibannya atau risiko dimana debitur tidak dapat melunasi hutangnya. Sebagai misal Bank A memberikan pinjaman berbunga kepada nasabah perorangan. Dengan melakukan hal ini bank menghadapi risiko nasabah tidak dapat membayar bunga atau membayar pokok dan bunga pinjaman.
2.   Risiko Pasar
Risiko pasar adalah risiko kerugian pada naik-turunnya posisi Neraca yang muncul akibat pergerakan di pasar modal. Risiko ini merupakan risiko gabungan yang terbentuk akibat perubahan suku bunga, perubahan nilai tukar serta hal-hal lain yang menentukan harga pasar saham, maupun ekuitas dan komitas.
3.   Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas dapat dibedakan menjadi dua yaitu risiko likuiditas asset (asset liquidity risk) dan risiko likuiditas pendanaan (funding liquidity risk). Risiko likuiditas asset sering disebut juga dengan market/product liquidity risk yang timbul ketika suatu transaksi tidak dapat dilaksanakan pada harga pasar yang terjadi oleh karena besarnya nilai transaksi relatif terhadap besarnya pasar. Sedangkan risiko likuiditas pendanaan yang sering juga disebut cash-flow risk yaitu ketidakmampuan memenuhi kewajiban yang sudah jatuh tempo yang pada gilirannya akan mengakibatkan likuidasi.
4.   Risiko Operasional
Risiko operasional adalah risiko kerugian sebagai akibat dari tindakan manusia, proses, infrastruktur atau teknologi yang mempunyai dampak operasional bank. Termasuk dalam risiko ini adalah kegiatan yang menjurus terjadinya kecurangan (fraudulent), kegagalan manajemen, tidak memadainya sistem pengendalian dan prosedur operasional. Kesalahan teknis dapat menyebabkan kerusakan sistem informasi, kerusakan proses transaksi, tidak berfungsinya sistem settlement atau tidak berjalannya back-office operation.

5.   Risiko Operasional
Risiko hukum adalah risiko yang timbul dari potensi terjadinya pelanggaran kontrak, kasus pengadilan atau kebijakan yang salah yang dapat menyebabkan pengaruh negatif terhadap kondisi keuangan maupun operasional bank. Risiko hukum umumnya berkaitan dengan risiko kredit oleh karena kerugian counterparty karena transaksi dengan bank mencari penyelesaian lewat pengadilan. Bentuk lain adalah gugatan pengadilan terhadap perusahaan yang dilakukan oleh para pemegang saham karena menderita kerugian yang besar.
6.   Risiko Operasional
Risiko reputasi adalah risiko kerusakan potensial sebagai akibat opini negatif publik terhadap kegiatan bank sehingga bank mengalami penurunan jumlah nasabah atau menimbulkan biaya besar karena gugatan pengadilan atau penurunan pendapatan bank. Rumor di pasar atau persepsi publik merupakan penyebab signifikan didalam menentukan tingkat risiko reputasi.
7.   Risiko Strategik
Risiko strategik adalah risiko yang disebabkan adanya penetapan dan pelaksanaan strategi Bank yang tidak tepat, pengambilan keputusan bisnis yang tidak tepat atau kurang responsifnya Bank terhadap perubahan eksternal. Akibat dari keputusan yang tidak tepat ini Bank harus mengeluarkan biaya yang besar dan gagal mencapai target bisnisnya.
8.   Risiko Kepatuhan
Risiko kepatuhan merupakan risiko yang disebabkan Bank tidak mematuhi atau melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan lain yang berlaku.
C.    Alat Analisis Manajemen Risiko
Tahun 1938: Bond Duration
Tahun 1952: Markowitz Mean-Variance Framework
Tahun 1963: Sharpe’s Capital Asset Pricing Model (CAPM)
Tahun 1966: Multiple Factor Models
Tahun 1973: Black-Scholes Option Pricing Model
Tahun 1979:  Binomial Option Model
Tahun 1983: RAROC, Risk-Adjusted Return
Tahun 1986: Limits on Exposures by Duration Bucket
Tahun 1988: Risk-Weighted Assets for Banks
Tahun 1992:  Stress Testing
Tahun 1993:  Value at Risk (VaR)
Tahun 1994:  RiskMetrics
Tahun 1997:  CreditMetrics, Credit Risk+
Tahun 1998:  Integration of Credit and Market Risk
Tahun 2000:  Enterprisewide Risk Management
D.    Analisis VaR
Manajemen risiko beberapa tahun terakhir ini telah mengalami revolusi yang dimulai dengan munculnya alat analisis Value at Risk (VaR) sebagai metode baru untuk mengukur risiko pasar uang yang dikembangkan untuk menjawab maraknya skandal keuangan pada awal tahun 1990an. Sebenarnya metodologi di belakang VaR tidaklah baru dan dapat ditelusur kembali pada kerangka Mean Variance yang dikembangkan oleh Markowitz pada tahun 1952. Apa yang baru dari VaR adalah integrasi dari semua risiko menjadi ukuran central common metric. Sekarang metode VaR telah menyebar jauh aplikasinya sampai pada transaksi derivative dan dengan demikian telah merubah cara suatu perusahaan menangani risiko keuangan.
VaR dapat ditelusur kembali akarnya pada saat terjadinya banyak skandal keuangan pada awal tahun 1990an yang menimpa Orange County, Baring, Daiwa dan banyak perusahaan lainnya. Apa yang terjadi pada perusahaan di atas adalah hilangnya jutaan dolar sebagai kerugian karena lemahnya pengawasan dan manajemen risiko. Sebagai akibat dari kerugian ini banyak institusi keuangan dan regulator melirik VaR sebagai metode yang mudah untuk memahami dan mengkuantifikasikan risiko pasar.
VaR adalah metode untuk menilai risiko yang menggunakan teknik statistik standar. VaR dapat didefinisikan: VaR measures the worst expected loss over a given horizon under normal market conditions at a given confidence level. Jadi VaR dapat diartikan ukuran kerugian terburuk yang diharapkan akan terjadi pada horison waktu tertentu pada kondisi pasar yang normal dengan tingkat kepercayaan tertentu. VaR memberikan ringkasan ukuran risiko pasar.
Sebagai misal sebuah bank dapat menyatakan bahwa VaR harian dari portofolio asset yang diperdagangkan sebesar Rp 100 milyar dengan tingkat kepercayaan 99%. Dengan kata lain hanya ada 1% kemungkinan (1 dari 100) pada kondisi pasar normal, bank akan menderita kerugian diatas Rp 100 milyar.
Angka di atas menunjukkan besarnya bank exposure terhadap risiko pasar dan juga probabilitas (kemungkinan) terjadinya pergerakan yang tidak menguntungkan (adverse move). Dengan angka ini pemegang saham dan manajer dapat memutuskan apakah mereka merasa nyaman atau tidak dengan tingkat risiko tersebut. Jika jawabannya adalah tidak nyaman, maka proses penghitungan VaR dapat digunakan untuk memutuskan pada bagian mana risiko ini harus dikelola.
Dibandingkan dengan ukuran risiko tradisional, VaR memberikan nilai agregat dari risiko portofolio yang meliputi leverage, korelasi dan posisi saat ini. Jadi VaR lebih melihat ke depan (forward looking) dan metodologi VaR dapat dikembangkan juga untuk jenis risiko keuangan lainnya. VaR harus digunakan oleh suatu lembaga atau institusi yang berhadapan dengan risiko keuangan dan ada tiga jenis penerapan dari VaR yaitu: (1) pasif, untuk pelaporan informasi, (2) defensif, untuk pengendalian risiko, dan (3) aktif, untuk mengelola risiko.
Secara statistik risiko merupakan volatilitas dari sesuatu dapat berupa pendapatan, laba, biaya dan seabagainya. Volatilitas merupakan ukuran dispersi (penyebaran) yang dalam statistik diukur dengan variance (s2) atau standar deviasi (s). Semakin besar nilai variance atau standart deviasi, maka semakin besar risikonya. Berikut ini akan dibahas beberapa konsep statistik yang akan digunakan untuk pembahasan pada bab-bab berikutnya
Return adalah pendepatan yang akan diterima jika kita menginvestasikan uang pada suatu aktiva finansial (saham, obligasi) atau aktiva riil (property, tanah). Misalkan kita membeli saham telkom dan memegangnya selama satu tahun. Return yang akan kita terima yaitu dividen dan capital gain (selisih harga jual saham dengan harga beli saham Telkom) atau secara matematis dapat ditulis sebagai berikut:
rtelkom =  = %                                                                                  
Jika kita memegang saham Telkom hanya sehari atau mingguan, maka tidak ada dividen yang diterima sehingga return hanyalah selisih antara harga jual dengan harga beli saham, secara matematis ditulis:
rtelkom =  = %                                                                                         
Ket:
D      =   dividen yang diterima
Ht     =   Harga saham pada periode t
Ht-1 =   Harga saham pada periode t-1
Return saham dapat dihitung harian, mingguan, bulanan dan tahunan. Semakin pendek periodenya misalkan harian maka sebaiknya perhitungan return menggunakan model geometri yang memberikan continuously compound return dan dihitung seperti di bawah ini:
rtelkom =  = %                                                                                               
Ket:
Ln     =   Logaritma Natural
Ht     =   Harga saham pada periode t
Ht-1 =   Harga saham pada periode t-1
Berikut ini diberikan contoh menghitung return harian saham telkom berdasarkan data harga saham Telkom selama bulan dengan menggunakan program Excel.
Expected return= mean dari return
Variasi besarnya return harian selama pengamatan sering disebut dengan volatilitas. Volatilitas merupakan ukuran risiko, dengan demikian risiko investasi pada saham Telkom tidak lain adalah volatilitas return saham Telkom. Secara statistik volatilitas diukur dengan Variance (s2) atau Standar Deviasi (s).
Rumus perhitungan Variance (s2) atau Standar Deviasi (s) sebagai berikut:
Variance (s2) =                                                                                          
Standar Deviasi (s) =                                                                          
Ket:
ri       =   return saham berdasarkan pengamatan sampel
Er     =   expected return saham (nilai rata-rata return)
N      =   jumlah observasi atau pengamatan
Pada program Excel Variance dihitung dengan rumus = VAR (number 1, number 2, ....), sedangkan Deviasi dihitung dengan rumus = STDEV (number 1, number 2, ....)
 Expected Return, Variance dan Standar Deviasi yang telah dibahas di atas hanya memberikan kepada kita informasi sifat distribusi probabilitas yang berkaitan dengan satu jenis saham atau investasi. Jika kita ingin mengetahui hubungan dua saham atau dua jenis investasi, misalkan bagaimana hubungan antara return saham telkom dengan return saham Gudang Garam? Apakah berhubungan positif yaitu jika return saham Telkom naik, maka begitu juga return saham Gudang Garam naik. Ataukah berhubungan negatif yaitu jika return saham Telkom naik, maka return saham Gudang Garam turun.
Untuk melihat hubungan dua saham ada dua konsep statistik yang dapat digunakan yaitu Covariance (Cov) dan Correlation (r). Secara matematis rumus kovarian dan korelasi dapat ditulis sebagai berikut:
Kovarian saham A dan saham B
Cov A,B =                                        
Ket:
rAi    =   return saham A berdasarkan pengamatan sampel
ErA =   expected return saham A (nilai rata-rata return saham A)
rBi    =   return saham B berdasarkan pengamatan sampel
ErB   =   expected return saham B (nilai rata-rata return saham B)
N      =   jumlah observasi atau pengamatan
Sebagai ukuran angka kovarian tidak banyak menjelaskan tentang hubungan return antara dua saham. Besarnya angka kovarian tidak menjelaskan eratnya hubungan antar dua saham, tetapi kita lebih menitik beratkan apakah nilai kovarian positif atau negatif. Angka kovarian positif menunjukkan jika return saham A berada di atas return rata-ratanya, maka begitu juga return saham B akan juga berada di atas rata-ratanya. Sebaliknya jika angka kovarian negatif berarti jika return saham A vberada di atas return rata-ratanya, maka return saham B berada di bawah return rata-ratanya. Besarnya nilai kovarian tidak terbatas berkisar dari minus 1 sampai plus tak terhingga.
Rumus Excel menghitung Kovarian = COVAR (array1, array2)

Korelasi saham A dan saham B
rA,B =                                                                        
Ket:
CovA,B = Covariance antara saham A dan B
sA         = Standar deviasi saham A
sB         = Standar deviasi saham B
Angka korelasi dapat mengukur seberapa erat hubungan antara dua saham A dan B. Semakin besar nilai korelasi maka semakin besar hubungan kedua saham tersebut. Besarnya koefisien korelasi berkisar dari minus 1 sampai plus 1 atau antara -1 dan +1. Nilai korelasi -1 berarti perfect negative correlation (korelasi negatif sempurna) yang berarti kenaikan 1 unit saham A diikuti dengan penurunan 1 unit saham B. Sedangkan korelasi +1 berarti perfect positive correlation (korelasi positif sempurna) yang berarti kenaikan 1 unit saham A diikuti dengan kenaikan 1 unit saham B. Korelasi berkisar antara -1 dan +1 disebut imperfect negative atau positive correlation.
Rumus Excel menghitung korelasi = CORREL (array1, array2)   

RETURN PORTOFOLIO DAN RISIKO PORTOFOLIO

Apa yang sudah di bahas di atas adalah perhitungan return dan risiko untuk satu saham. Dalam portofolio kita investasi pada lebih dari satu jenis saham dengan nilai investasi yang berbeda, yang menjadi masalah sekarang adalah berapa besarnya return portofolio dan risiko portofolionya. Untuk membahas hal ini kita mulai saja dengan dua saham A dan B dengan informasi seperti di bawah ini:



Portofolio

Saham A
Saham B
50% Saham A + 50% Saham B
Return (r)
10%
20%
?
Std Deviasi (s)
5%
8%
?
Cov (A,B) = 2%




Berdasarkan informasi ini dapat dikatakan bahwa jika kita hanya investasi pada saham A saja, maka besarnya return yang diperoleh 10% dengan tingkat risiko 5%. Sedangkan jika kita hanya investasikan pada saham B saja, maka besarnya return yang diperoleh 20% dengan tingkar risiko 8%.
Sekarang kalau kita investasikan uang kita 50% pada saham A dan 50% saham B, maka berapa besarnya return portofolio dan risiko portofolio. Pertanyaan yang timbul apakah return portofolio sama dengan penjumlahan rata-rata dari masing-masing return saham A dan B. Begitu juga apakah risiko portofolio sama dengan penjumlahan rata-rata risiko saham A dan saham B? Return Portofolio (rp) adalah penjumlahan rata-rata dari masing-masing return saham A dan B secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut:
Rp      = (xa x ra) + (xb x rb)
           = (0,50 x 0,10) + (0,50 x 0,20) = 15%
Risiko portofolio (sp) ternyata bukanlah penjumlahan rata-rata dari masing-masing risiko saham A dan B karena ada covariance antara A dan B. Oleh karena itu kita harus mengetahui matrik kovarian dua saham A dan B seperti di bawah ini:

Xa
Xb

A
B
xa A
s2A
CovB,A
xb B
CovA,B
s2B

Diagonal matrik adalah Variance A (s2A) dan Variance B (s2B), sedangkan di atas dan di bawah diagonal adalah Covariance B,A (CovB,A) dan Covariance A,B (CovA,B). Berdasarkan matrik kovarian ini dapat diperoleh besarnya risiko portofolio (sp) dengan rumus sebagai berikut:
Risiko Portofolio (sp)
=
=
=
=
= 0,11056
= 11,06%
Jadi besarnya risiko portofolio investasi 50% saham A dan 50% saham B adalah 11,06%. 
Kasus Portofolio 3 saham atau lebih
Untuk kasus portofolio 3 saham atau lebih dapat dibuat matrik kovarian dan rumus perhitungan portofolio sebagai berikut:

Xa
Xb
Xc

A
B
C
xa A
s2A


xb B
CovA,B
s2B

xc C
CovA,C
CovB,C
s2C

Oleh karena Covariance di atas dan di bawah diagonal sama, maka hanya cukup ditulis yang dibawah diagonal saja, tetapi nanti kita hitung dua kali.
Rumus Risiko Portofolio untuk 3 saham:
Jika yang diketahui adalah korelasi (r), maka Covariance dapat kita ganti dengan korelasi dengan rumus:
rA,B =
Cov A,B = rA,B sA sB
Berikut ini diberikan contoh portofolio dua saham yaitu saham Telkom dan saham BCA. Uang yang diinvestasikan sebesar Rp 100juta, yaitu Rp 80 juta dibelikan saham Telkom dan Rp 20 juta dibelikan saham BCA. Berdasarkan pengamatan data return kedua saham tersebut selama bulan Desember 2004. hitunglah besarnya return portofolio (rp) dan risiko portofolio (sp).
Untuk menjawab kita harus menentukan besarnya:
  1. Expected return saham dengan rumus = AVERAGE (number1, number 2....)
  2. Standar Deviasi return dengan rumus = STDEV (number1, nu,ber 2....)
  3. Covariance return kedua saham dengan rumus = COVAR (array1, array2....)
  4. Correlation return kedua saham dengan rumus = CORREL (array1, array2....)
Expected return Telkom = AVERAGE (B2:B22)
Expected return BCA = AVERAGE (C2:C22)
Variance return Telkom = VAR (B2:B22)
Variance return BCA = VAR (C2:C22)
Standar Deviasi Telkom = STDEV (B2:B22)
Standar Deviasi BCA = STDEV (C2:C22)
Covariance (Telkom, BCA) = COVAR (B2:B22, C2:C22)
Correlation (Telkom, BCA) = CORREL (B2:B22, C2:C22)
Return Portofolio = ((80/100)*B24)+(20/100)*C24
Risiko Portofolio = SQRT ((80/100)^2*$G$9+(20/
100) ^2*$H$11+2*(80/100)*(20/100)*$G$11
Berikut ini diberikan contoh portofolio tiga saham yaitu saham Telkom, saham BCA dan Gudang Garam. Uang yang diinvestasikan sebesar Rp 100 juta, yaitu Rp 50 juta dibelikan saham Telkom, Rp 25 juta dibelikan saham BCA dan Rp 25 juta dibelikan saham Gudang Garam. Berdasarkan pengamatan data return ketiga saham tersebut selama bulan Desember 2004. Hitunglah besarnya return portofolio (rp) dan risiko portofolio (sp).
Expected return Telkom = AVERAGE (B2:B22)
Expected return BCA = AVERAGE (C2:C22)
Variance return Telkom = VAR (B2:B22)
Variance return BCA = VAR (C2:C22)
Standar Deviasi Telkom = STDEV (B2:B22)
Standar Deviasi BCA = STDEV (C2:C22)
Covariance (Telkom, BCA) = COVAR (B2:B22, C2:C22)
Correlation (Telkom, BCA) = CORREL (B2:B22, C2:C22)
Return Portofolio = ((80/100)*B24)+(20/100)*C24
Risiko Portofolio = SQRT ((80/100)^2*$G$9+(20/
100) ^2*$H$11+2*(80/100)*(20/100)*$G$11
Return Portofolio (Rp)   =   ((50/100)*B24+(25/100)*C24+(25/100)*D24)= 0,000264
Risiko Portofolio (sp)    =   SQRT ((50/100)^2*$H$8+(25/100)^2*$I$10+(25/
                                            100) ^2*$J$12
                                            + 2*(50/100)*(25/100)*$H$10+2*(50/100)*(25/
                                            100)*$H$12
                                            +2*(25/100)*(25/100)*$J$12
                                       =   0,01760

Tidak ada komentar:

Posting Komentar